Budaya Sunda Di Lingkungan

SMK Negeri 1 Sukabumi Sejarah SMK Negeri 1 Sukabumi

1965 : Pembentukan sekolah swasta dengan nama STM Dharma Karya Sukabumi.

1966 : Perubahan/alih status dari sekolah swasta STM Dharma Karya menjadi STM Negeri Sukabumi dengan lokasi di Jl. Pasundan No. 1 Sukabumi mempunyai tiga jurusan listrik, mesin dan bangunan yang berafiliasi dengan STM Negeri 1 Bandung.

1984 : Pengembangan STM Negeri Sukabumi oleh Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan melalui Proyek Peningkatan Pendidikan Kejuruan Teknik III dengan bantuan Asian Development Bank ( ADB ) dibangun gedung di lokasi baru Jl. Kabandungan No. 90 Kelurahan Selabatu Cikole Sukabumi luas areal 4,8 Ha dengan sarana dan prasarana yang lengkap. Dengan membuka lima jurusan yaitu teknik bangunan, teknik elektronika, teknik listrik, teknik mesin, dan teknik otomotif.

1993 : Perubahan nama dari STM Negeri Sukabumi menjadi SMK Negeri 1 Sukabumi. Dengan membuka tujuh program keahlian yaitu teknik konstuksi bangunan, teknik gambar bagnunan, teknik survey pemetaan, teknik audio video, teknik pemanfaatan energi listrik, teknik pemesinan, dan teknik mekanik otomotif

2003 : Ditetapkan pemerintah menjadi sekolah berstandar Nasional, pembukaan program keahlian teknik produksi pertelevisian dan mengembangkan program SMK Besar dengan penambahan jumlah siswa.

Kota Sukabumi Assalamu'alaikum Wr. Wb Web Site Kota Sukabumi ini memuat gambaran tentang Kota Sukabumi yang meliputi latar belakang, kondisi pemerintahan, kondisi perekonomian, sosial dan budaya, kondisi wilayah dan potensi yang dimiliki Kota Sukabumi. Melalui Web site ini diharapkan seluruh khalayak dapat mengenal dan mengetahui tentang wajah perkembangan Kota Sukabumi dengan berbagai aktivitasnya. Kami sadari bahwa pelaksanaan berbagai program pembangunan Kota Sukabumi ini berjalan dengan sangat dinamis seiring dengan perkembangan jaman yang menuntut kerja keras semua pihak. Untuk itu partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan untuk mendukung segala usaha kami. Melalui web site ini pula mudah-mudahan dapat menumbuhkan inspirasi untuk meningkatkan apresiasi, minat serta semangat partisipasi masyarakat dalam mewujudkan Visi dan Misi Kota Sukabumi dengan paradigma surgawi yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Akhirnya, semoga segala upaya yang kita lakukan akan memberikan manfaat yang sangat berguna bagi kita semua dan senantiasa mendapat ridho Allah SWT. Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

kujang

Di bawah Post >halaman utama oleh admin hari Senin 4 Mei 2009 pukul 02:30

kujang

Kebanyakan orang tahu Kujang Jawa Barat. Namun, tidak banyak dari mereka yang dapat mengetahui secara mendalam latar belakang sejarah dan simbol di balik Kujang. Kujang hanya dikenal senjata yang mirip dengan bentuk khas Sunda lancip. Sisanya mungkin, Kujang hanya dikenal sebagai simbol dari Provinsi Jawa Barat.

Kebanyakan orang tahu Kujang Jawa Barat. Namun, tidak banyak dari mereka yang dapat mengetahui secara mendalam latar belakang sejarah dan simbol di balik Kujang. Kujang hanya dikenal senjata yang mirip dengan bentuk khas Sunda lancip.

Sisanya mungkin, Kujang hanya dikenal sebagai simbol dari Provinsi Jawa Barat. Tidak hanya itu, meskipun orang tahu Kujang Jawa Barat sebagai simbol keagungan dan orang Sunda dianggap mungkin hikmah, tidak banyak literatur yang memberikan penjelasan tentang ini menanggulangi.

Kujang lambang Jawa Barat

adalah sebuah senjata unik baik dari segi bentuk dan kesejarahannya. Kujang secara umum telah diakui sebagai milik asli Sunda. Menjadi ciri khas, baik sebagai senjata, alat pertanian, perlambang, hiasan, atau cindera mata. Lebih dari itu merupakan simbol dari Kujang Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Barat.

Apa yang khusus dari Kujang? Dikesankan mengapa ia memiliki daya magis dan suci? Mengapa Jawa Barat memilih Kujang sebagai lambang dan bukan hal-hal lain? Beberapa pertanyaan yang menarik untuk belajar lebih lanjut. Meskipun tidak banyak sumber (literatur) yang dapat memberikan informasi tentang hal ini.

Namun, data atau informasi tentang Kujang beberapa di antaranya tercantum dalam Pantun Bogor, Wawacan Terah Pasundan, Keris dan Senjata lain di Indonesia, termasuk sumber-sumber lisan di wilayah Bandung, Sukabumi, Panjalu (Ciamis), Sumedang, Cirebon dan Garut.

Ditulis data dapat diperoleh dari Anis Djatisunda lain, seorang peneliti lapangan ahli Kanekes yang tinggal di Sukabumi. Anis telah mempersiapkan karya tulis (1996) berjudul “Kujang Berita Pantun Bogor” yang disiapkannya untuk tentang gatrasawala kujang tetapi batal dilaksanakan.

Keterangan dapat diperoleh dari buku Wacana Nonoman Terah Pasundan karangan kadar Rohmat dan HS Ranggawulya. Data yang diperoleh dari buku ini dan Keris Orther Weapons of Indonesia karangan Mubirman, Profil Propinsi Republik Indonesia (Jawa Barat), dan Pengabdian DPRD DT. Jabar saya menemukan tiga pemerintah daerah di Jawa Barat perpustakaan.

Sementara brosur dari Gosali Pamor Siliwangi pimpinan Bayu S. Hidayat dapat menjadi pelengkap, sebab perajin Tosan Aji adalah secara sadar berniat melestarikan kujang sebagai cindera dari satu kelas. Shirt diperoleh dari tulisan informasi tentang teknik pembuatan kujang yang sudah menggunakan teknologi muktahir.


Sisingaan

Di bawah Post adat oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 19:58

Sisingaan adalah suatu jenis kesenian tradisional atau seni pertunjukan rakyat yang dilakukan dengan arak-arakan dalam bentuk helaran. Pertunjukannya biasa ditampilkan pada acara khitanan atau acara-acara khusus seperti ; menyambut tamu, hiburan peresmian, kegiatan HUT Kemerdekaan RI dan kegiatan hari-hari besar lainnya.

Didalam seni sisingaan terdapat unsur-unsur seperti; seni tari, olah raga (Pencak Silat dan Jaipongan), seni karawitan, seni sastra dan seni busana. Semua unsur tersebut berpadu dan bersinerji membentuk suatu tari dan lagu dan acapkali ditambah dengan gerak akrobat yang membentuk formasi seperti standen.

Peralatan yang digunakan dalam setiap pertunjukan terdiri dari; usungan sisingaan, terompet, ketuk,, kempul, goong dan kecrek. Busana pemainnya menggunakan pakaian adat sunda seperti; celana kampret, ikat kepala, ikat pinggang, baju taqwa dan menggunakan sepatu kelenci dan penunggang sisingaannya biasanya anak sunat yang menggunakan pakaian sunatan. (lanjutkan…)


Ketuk Tilu

Di bawah Post seni tari oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 19:44
Ketuk Tilu adalah suatu tarian pergaulan dan sekaligus hiburan yang biasanya diselenggarakan pada acara pesta perkawinan, acara hiburan penutup kegiatan atau diselenggrakan secara khusus di suatu tempat yang cukup luas. Pemunculan tari ini di masyarakat tidak ada kaitannya dengan adat tertentu atau upacara sakral tertentu tapi murni sebagai pertunjukan hiburan dan pergaulan. Oleh karena itu tari ketuk tilu ini banyak disukai masyarakat terutama di pedesaan yang jarang kegiatan hiburan.
Istilah ketuk tilu adalah berasal dari salah satu alat pengiringnya yaitu boning yang dipukul tigakali sebagai isyarat bagi alat instrument lainnya seperti rebab, kendang besar dan kecil, goong untuk memulai memainkan sebuah lagu atau hanya sekedar instrumentalia saja. Dilihat dari aspek pertunjukannya tari ketuk tilu terbagi ke dalam tiga bagian. Bagian pertama, sepengiring melantunkan irama gamelan, rebab dan kendang untuk menarik perhatian masyarakat. Pada bagian kedua yaitu takala orang-orang telah berkumpul memadati tanah lapang barulah muncul para penari memperkenalkan diri kepada para penonton sambil berlenggak-lenggok mencuri perhatian penonton. Pada bagian ketiga adalah pertunjukannya itu sendiri yang dipandu oleh seseorang semacam moderator dalam rapat atau juru penerang. Pada bagian pertunjukan ini penari mengajak penonton untuk menari bersama dan menari secara khusus berpasangan dengan penari. Adakalanya apabila ingin menari secara khusus dengan sipenari ia harus membayar sejumlah uang. Di desa-desa tertentu di Jawa Barat, pertunjukan seni tari ketuk tilu ini sering kali dilakukan hingga semalam suntuk. (lanjutkan…)


Upacara Adat Sunda

Di bawah Post adat oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 16:41
prosesi-upacara-adat-2

Upacara adat perkawinan Sunda merupakan tambahan dari acara pokoknya, yaitu ijab dan qobul sebagaimana yang telah disyariatkan oleh Agama Islam. Tambahan acara ini seringkali menjadi peristiwa yang ditunggu-tunggu oleh yang hadir karena mengandung hal-hal yang bersifat humoris dan ada sesuatu yang dibagikan kepada hadirin. Namun demikian, acara adat tersebut tidaklah ada kaitannya dengan acara pokok akad nikah. Hal demikian itu, hanya sekedar hiburan sebagaimana halnya penyajian lagu-lagu, kasidahan atau orkes dangdut.
Bagian-bagian acara adat yang biasa dilaksanakan meliputi; nincak endog (menginjak telur) yang maksudnya adalah bahwa si mempelai penganten itu akan memulai malam pertamanya dengan indah. Ketika melaksanakan malam pertama itu, si penganten harus benar-benar hati-hati dan tidak “grasa-grusu”, sehingga nantinya menghasilkan yang baik. Nincak elekan (menginjak semacam bamboo yang biasa dibuat suling) maksudnya hamper sama. Hanya saja ini disimbolkan kepada “wanita”, sedangkan telor, lebih disimbolkan kepada laki-laki.
Selanjutnya, Meuleum Harupat (membakar segenggam yang berisi tujuh buah potongan lidi), maksudnya adalah membuang atau membakar sifat-sifat jelek yang ada pada diri manusia, seperti : iri, dengki, mudah tersinggung, pemarah, kikir, tamak dan sombong. Kemudian, Meupeuskeun kendi (memecahkan kendi), yang maknanya sama dengan akan melepasnya masa bujang dan gadis pada malam pertama.
Sedangkan, Ngaleupaskeun Japati (melepaskan burung dara) dan Melempar kanjutkunang (melempar tas kecil terbuat dari kain) kepada yang hadir, adapt ini melambangkan/symbol, bahwa kedua orang tua melepas penganten yang terakhir di keluarganya. Jadi yang terdapat dikeluarhganya dihabiskan atau dibagikan sebagai ungkapan rasa kebahagiaan atau pula sebagai tanda bahwa orang tua tersebut mengawinkan anaknya yang terakhir.
Setelah itu acara sawer, yaitu melemparkan barang-barang seperti, beras kuning, permen, dan uang recehan seraya dibarengi lagu-lagu yang berisi pepatah bagi pengantin. Beras kuning, permen dan uang recehan adalah symbol keduniaan yang harus dicari oleh khususnya pihak laki-laki dan dipelihara oleh pihak wanita (isteri).
Setelah sawer kemudian dilakukan acara buka panto (buka pintu) yang dimaksudkan pembelajaran kepada pengantin dalam hal tata krama di rumah antara suami dan isteri.
Akhir dari acara adat pengantin sunda adalah acara “huap lingkung” yang berisi saling menyuapi dengan air minum, nasi kuning dan pabetot-betot bakakak (saling menarik ayam panggang) bagi yang dapat bagian terbesar dari ayam tersebut adalah pertanda akan mendapat rezeki yang banyak (jikalau diusahakan dengan baik). Pada acara huap lingkung inipun, dilakukan huap deudeuh dan huap geugeut yang artinya saling memberi sebagai tanda kasih sayang.

Sehari sebelum acara perkawinan dimulai, dilakukan terlebih dahulu acara siraman terhadap kedua calon mempelai (secara terpisah) oleh kedua orang tua calon mempelai. Acara ini meliputi kegiatan; mandi kembang, berjalan diatas tujuh helai kain samping dan pengajian sebagai ugkapan permohonan keselamatan. Acara siraman ini dimaksudkan sebagai tanda kasih sayang orang tua yang terakhir khususnya dalam memandikannya karena setelah berkeluarga diserahkan kepada masing-masing. Acara sebelum hari pokok ini hampir sama untuk setiap daerahnya, baik acara Penganten jawa atau bahkan Sumatera.
Mengenai Lamanya acara adat ini, biasanya sekitar dua jam dan dipandu oleh juru rias serta MC yang mengambil tempat biasanya di depan rumah (halaman depan) atau diselenggarakan secara khusus di gedung tempat resepsi dengan harapan dapat disaksikan oleh para tamu undangan.
Tidak semua acara perkawinan diikuti acara adat. Mungkin bagi mereka yang ingin simple-simpel saja pasti tidak dilakukan, tapi bagi mereka keluarga yang masih memegang kuat adapt walaupun anak-anaknya tidak saja, apa boleh buat harus diikuti. Sekali lagi diingatkan, bahwa acara adat itu sekedar tambahan yang bersifat hiburan dan tidak mengandung makna ibadah langsung. Sekedar meramaikan. Dikerjakan boleh, tidakpun tidak apa-apa.

Angklung

Di bawah Post seni musik oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 16:22

Angklung adalah sebuah alat atau waditra kesenian yang terbuat dari bambu khusus yang ditemukan oleh Bapak Daeng Sutigna sekitar tahun 1938. Ketika awal penggunaannya angklung masih sebatas kepentingan kesenian local atau tradisional.

Namun karena bunyi-bunyian yang ditimbulkan dari angklung memiliki kandungan local dan internasional seperti bunyi yang bertangga nada duremi fa so la si du dan daminatilada maka angklung cepat berkembang tidak saja dipertunjukkan pada kelompok local tapi juga dipertunjukkan pada kelompok regional, nasional dan internasional. Bahkan konon khabarnya pertunjukan angklung pernah dipertunjukan didepan Para pemimpin Negara pada Konferensi Asia Afika di Gedung Merdeka Bandung pada tahun 1955. (lanjutkan…)


Bentengan

Di bawah Post permainan oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 15:38

Permainan betengan ini di beberapa daerah seringkali dikenal sebagai rerebonan di daerah jawa barat sedang di daerah lain juga di kenal dengan nama prisprisan, omer, jek-jekan.
Benteng, adalah permainan yang dimainkan oleh dua kelompok, masing - masing terdiri dari 4 sampai dengan 8 orang. Masing - masing grup memilih suatu tempat sebagai markas, biasanya sebuah tiang, pohon atau pilar sebagai ‘benteng’.
Tujuan utama permainan ini adalah untuk menyerang dan mengambil alih ‘benteng’ lawan dengan menyentuh pohon, tiang atau pilar yang telah dipilih oleh lawan dan ketika menyentuh markasnya. meneriakkan kata benteng………… Berarti telah memenangkan permainan, kemudian ermainan dapat di mulai lagi. Kemenangan juga bisa diraih dengan ‘menawan’ seluruh anggota lawan dengan menyentuh tubuh mereka. Untuk menentukan siapa yang berhak menjadi ‘penawan’ dan yang ‘tertawan’ ditentukan dari waktu terakhir saat si ‘penawan’ atau ‘tertawan’ menyentuh ‘benteng’ mereka masing - masing.
Orang yang paling dekat waktunya ketika menyentuh benteng berhak menjadi ‘penawan’ dan bisa mengejar dan menyentuh anggota lawan untuk menjadikannya tawanan. Tawanan biasanya ditempatkan di sekitar benteng musuh. Tawanan juga bisa dibebaskan bila rekannya dapat menyentuh dirinya. Kejar-kejaran antar pemainpun terjadi maka diperlukan tenaga ekstra.
Dalam permainan ini, biasanya masing - masing anggota mempunyai tugas seperti ‘penyerang’, ‘mata - mata, ‘pengganggu’, dan penjaga ‘benteng’. Permainan ini sangat membutuhkan kecepatan berlari dan juga kemampuan strategi yang handal.


Ta’ Patung

Di bawah Post permainan oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 15:35

Nama permainan ini ada yang mengenal dengan nama ta’ Patung , patung-patungan, putri salju dll. Cara bermainya pun mungkin agak berbeda tetapi intinya pasti sama. Sedangkan yang akan kita bahas sekarang adalah…??? Yap.. betul sahabat versi putri salju.

Cara Bermain

Permainan ini dimainkan oleh anak laki-laki maupun perempuan Pemain yang di butuhkan dalam permainan ini semakin banyak semakin baik, minimal 5 orang agar permainan ini semakin hidup. Area yang luas juga diperlukan karena permainan ini intinya adalah bermain kejar-kejaran.

Permainan di mulai dengan anak-anak membentuk lingkaran dan salah seorang anak menunjuk-nunjuk anak yang ikut bermain sambil bersama menyayikan lagu wajib permainan ini:

Ma.. ma pergi, pa..pa pergi
ku duduk manis melihat tali
ku gantung diri talinya putus
digigit tikus tikusnya empat
pak jamal lewat lewat kuburan
melihat pocong berbaju putih
putih-putih melati alibaba
merah merah delima pinokio
siapa yang baik hati cinderella
tentu di sayang mama
burung iri burung irian
putri salju berubah menjadi patung

setelah lagu selesai dinyanyikan, pemain yang ketunjuk pada “menjadi patung” dia di nyatakan “dadi” lau tugasnya menghitung 1-10 sedangkan pemain yang lain harus mengikuti hitungan dari nyang “dadi” tadi. Dengan peraturan seperti ini: (lanjutkan…)


Permainan Bekelan

Di bawah Post permainan oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 15:32


Halo.. para wanita sebangsa dan setanah air, pengumuman… pengumuman… edisi posting kali ini kita akan membahas tentang.. permainan favorit kaum wanita yang telah ditunggu-tunggu adalah….. bekelan. siap sahabat!!! ini dia…….

Nama bekelan atau bekel berasal dari nama bola yang dipakai yaitu bola yang terbuat dari karet yang disebut dengan bola bekel. Bekelan adalah permainan anak yang kebanyakan dimainkan oleh anak perempuan. Yang dibutuhkan dalam permainan ini yaitu Bola karet sebesar bola pingpong kemudian timbel yang berupa misalnya kacang, batu kecil, kelereng atau yang lain yang penting ukuranya pas di tangan dengan jumlah 5 (lima).

Pemain pertama harus mulai dengan semua biji dalam satu tangan dan bijinya akan dijatuhkan waktu bola dilempar masih ada di udara. Setiap kali bola dilempar, bolanya hanya bisa menyinggung lantai satu kali, sebelum pemain menangkapnya.Habis itu, setiap kali bolanya dilempar, pemain akan mengambil satu biji dan menangkap bolanya dengan tangan yang sama, sampai semua biji di lantai sudah habis.

Pemainnya bisa terus bermain dengan menaikkan jumlah biji yang diambil setiap bagian, sampai dia bisa mengambil semua bijinya dalam satu kali. Lalu, permainannya akan dibuat lebih sulit dengan menambah satu aturan yang lain pada aturan yang ada:

Mula-mula pemain harus mengganti semua biji di atas dulu, baru dia bisa mengambil satu biji setiap kali sampai semua bijinya habis. Habis itu, pemain harus melempar biji di lantai lagi. Kemudian, dia harus memutar biji seperti dulu. Lalu, dia akan mengambil dua biji setiap kali sampai semua bijinya habis. Ini meneruskan sampai semua bijinya bisa diambil dalam satu kali. Kalau kebetulan biji jatuh dari tangannya waktu sedang bermain, pemainnya juga harus berhenti, jadi lawan bisa mulai.Pemain yang bisa bermain lebih banyak macam yang berbeda adalah pemenangnya.


Petak Umpet

Di bawah Post permainan oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 15:21

http://3.bp.blogspot.com/_SNkKHpCs5a8/Sa1j1ctOw5I/AAAAAAAAAEQ/dVMvaQJLy18/s320/hide-and-seek1.jpg

Petak umpet adalah sejenis permainan yang bisa dimainkan oleh minimal 2 orang, namun jika semakin banyak akan semakin seru.

Cara bermain

Dimulai dengan Hompimpa untuk menentukan siapa yang menjadi “kucing” (berperan sebagai pencari teman-temannya yang bersembunyi). Si kucing ini nantinya akan memejamkan mata atau berbalik sambil berhitung sampai 10, biasanya dia menghadap tembok, pohon atau apasaja supaya dia tidak melihat teman-temannya bergerak untuk bersembunyi (tempat jaga ini memiliki sebutan yang berbeda di setiap daerah, contohnya di beberapa daerah di Jakarta ada yang menyebutnya INGLO, di daerah lain menyebutnya BON dan ada juga yang menamai tempat itu HONG). Setelah hitungan sepuluh (atau hitungan yang telah disepakati bersama, misalnya jika wilayahnya terbuka, hitungan biasanya ditambah menjadi 15 atau 20) dan setelah teman-temannya bersembunyi, mulailah si “kucing” beraksi mencari teman-temannya tersebut.

(lanjutkan…)


Ladrang

Di bawah Post pupuh oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 15:11

Pupuh 17: Ladrang

Aya hiji rupa sato leutik
Engkang-engkang, engkang-engkang
Sok luluncatan di cai
Ari bangun arek sarupa jeung lancah (lanjutkan…)


Wirangrong

Di bawah Post pupuh oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 15:08

Pupuh 16: Wirangrong

Barudak mangka ngalarti
Ulah rek kadalon-dalon
Enggon-enggon nungtut elmu
Mangka getol mangka tigin
Pibekeleun sarerea
Modal bakti ka nagara (lanjutkan…)


Sinom

Di bawah Post pupuh oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 15:07

upuh 15: Sinom

Warna-warna lauk empang
Aya nu sami jeung pingping
Pagulung patumpang-tumpang
Ratna Rengganis ninggali
Warnaning lauk cai
Lalawak pating suruwuk
Sepat pating karocepat
Julung-julung ngajalingjing
Sisi balong balingbing, sisi balungbang

(lanjutkan…)


Pucung

Di bawah Post pupuh oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 15:06

Pupuh 14: Pucung

Estu untung nu bisa mupunjung indung ( 12 – u )
jeung nyenangkeun bapa ( 6 – a )
tanda yen bagjana gede ( 8 – e )
hitup mulus kaseundeuhan ku berekah ( 12 – a )

Lutung buntung luncat kana tunggul gintung
Monyet loreng leupas
luncat kana pager dengdek
Bajing kuning jaralang belang buntutna (lanjutkan…)


Pangkur

Di bawah Post pupuh oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 15:04

Pupuh 13: Pangkur

Seja nyaba ngalalana ( 8 – a )
ngitung lembur ngajajah milang kori ( 12 – i )
henteu puguh nu dijugjug ( 8 – u )
balik paman sadaya ( 7 – a )
nu ti mana tiluan semu rarusuh ( 12 – u )
Lurah Begal ngawalonan ( 8 – a )
“Aing ngaran Jayapati”( 8 – i ) (lanjutkan…)


Mijil

Di bawah Post pupuh oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 15:03

Pupuh 12: Mijil

Mesat ngapung putra Sang Arimbi
Jeung mega geus awor
Beuki lila beuki luhur bae
Larak-lirik ninggali ka bumi
Milari sang rai
Pangeran Bimanyu (lanjutkan…)


Magatru

Di bawah Post pupuh oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 15:02

Pupuh 10: Magatru

Majalaya, Ciparay, Banjaran, Bandung
Kopo reujeung Cisondari, Cicalengka, Ujung Berung
Rajamandala, Cimahi
Leles, Limbangan, Tarogong

Panambih:

Sukuna pakepit tilu
Panonna opat harerang
Leumpangna semu nu lesu
Ngalengkah teu bisa gancang


Lambang

Di bawah Post pupuh oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 15:01

Pupuh 9: Lambang

Nawu kubang sisi tegal ( 8 – a )
nyair bogo meunang kadal ( 8 – a )
atuh teu payu dijual ( 8 – a )
rek didahar da teu halal ( 8 – a )

(lanjutkan…)


Kinanti

Di bawah Post pupuh oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 15:00

Pupuh 8: Kinanti

Budak leutik bisa ngapung
Babaku ngapungna peuting
Nguriling kakalayangan
Neangan nu amis-amis
Sarupaning bungbuahan
Naon bae nu kapanggih

(lanjutkan…)


Jurudemung

Di bawah Post pupuh oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 14:58

Pupuh7 : Jurudemung

Mungguh nu hirup di dunya
Ku kersaning anu agung
Geus pinasti panggih
Jeung dua rupa perkara
Senang paselang jeung bingung

(lanjutkan…)


Gurisa

Di bawah Post pupuh oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 14:56

Pupuh 6: Gurisa

Hayang teuing geura beurang ( 8 – a )
geus beurang rek ka Sumedang ( 8 – a )
nagih anu boga hutang (8 – a )
mun meunang rek meuli soang ( 8 – a )
tapi najan henteu meunang ( 8 – a )
teu rek buru buru mulang ( 8 – a )
rek tuluy guguru nembang ( 8 – a )
jeung diajar nabeuh gambang ( 8 – a)

(lanjutkan…)


Gambuh

Di bawah Post pupuh oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 14:55

Pupuh 5: Gambuh

Ngahuleng banget bingung ( 7 – u )
henteu terang ka mana ngajugjug ( 10 – u )
turug turug harita teh enggeus burit ( 12 – i )
panon poe geus rek surup ( 8 – u )
keueung sieun aya meong ( 8 – o )

Ngahuleng banget bingung
Heunteu terang kamana nya indit
Turug-turug harita teh, enggeus burit
Panonpoe geus rek surup
Keueung sieun, aya meong

Panambih:

Hulang-huleng, hulang-huleng
Ngahuleng ngaraga meneng
Hate ratug, tutunggulan
Heunteu terang, kaler-kidul
Turug-turug, turug-turug
Harita teh, enggeus burit
Panonpoe geus rek surup
Keueung sieun aya meong


Durma

Di bawah Post pupuh oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 14:52

Pupuh 4: Durma:

Moal ngejat sanajan ukur satapak
Geus dipasti ku jangji
Mun tacan laksana
Numpes musuh sarakah
Heunteu niat seja balik
Najan palastra
Mati di medan jurit

Panambih:

Di mamana si penjajah
Pada amarah marudah
Manan kapok anggur gawok
Najan dituyuk diragut
Nagri sadayana
Umumna ngabela
Nyempad rosa, pulitik penjajah
Tapi nu ngajajah
Teu pasrah, teu sadrah
Terus meres, ngahina ngarinah


Kelereng

Di bawah Post permainan oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 14:50

Kelereng buatan tangan dari Afrika Barat.

Kelereng (atau dalam bahasa sunda disebut kaleci) adalah mainan kecil berbentuk bulat yang terbuat dari kaca, tanah liat, atau agate. Ukuran kelereng sangat bermacam-macam. Umumnya ½ inci (1.25 cm) dari ujung ke ujung. Kelereng dapat dimainkan sebagai permainan anak, dan kadang dikoleksi, untuk tujuan nostalgia dan warnanya yang estetik.


Dangdanggula

Di bawah Post pupuh oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 14:46

Pupuh 3: Dangdanggula

Mega beureum surupna geus burit
Ngalanglayung panas pipikiran
Cikur jangkung jahe koneng
Naha teu palay tepung
Sim abdi mah ngabeunying leutik
Ari ras cimataan
Gedong tengah laut
Ulah kapalang nya bela
Paripaos gunting pameulahan gambir
Kacipta salamina

Panambih:

Hiji basa, hiji bangsa
Basa bangsa, Indonesia
Hiji bangsa, hiji nusa
Nusa tunggal, Nusantara
Seler-seler, suku bangsa
Di wewengkon, mana-mana
Sakasuka, sakaduka
Wujud bangsa, Indonesia


Balakbak

Di bawah Post pupuh oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 14:46

Pupuh 2: Balakbak

Aya warung sisi jalan rame pisan – Citameng(15-e)
Awewena luas luis geulis pisan – ngagoreng (15-e)
Lalakina lalakina los ka pipir nyoo monyet – nyanggereng (19-e).

Panambih:

Aya warung sisi jalan
Rame pisan ku nu jajan
Tihothat nu ngaladangan
Nu jarajan sukan-sukan


Sayur asem

Di bawah Post makanan oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 14:44
Langsung ke: navigasi, cari

Sayur asem

Sayur asam adalah masakan sejenis sup sayur yang khas Indonesia. Ada banyak variasi sayur asam seperti sayur asam Jakarta (variasi dari orang Betawi di Jakarta), sayur asam kangkung (variasi yang menggunakan kangkung), sayur asam ikan asin (dengan ikan asin, biasanya ikan gabus (Channa striata)), dan lain-lain.

Bahan-bahan yang sering digunakan adalah kacang tanah, nangka muda, melinjo, belimbing sayur, labu siam, kacang panjang, dan asam jawa. Sering juga digunakan jagung dalam masakan ini.

Rasa masakan yang manis dan asam ini sangatlah menyegarkan dan cocok jika dipadukan dengan lauk kering lainnya seperti ikan goreng dan lalapan. Sering juga masakan ini disajikan dengan sambal.

Masakan ini masih menyerupai tom yam, yang merupakan masakan Thailand, walau sayur asam lebih menggunakan sayur-sayuran daripada makanan laut.


Pencak silat

Di bawah Post bela diri oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 14:35

Seorang pendekar sedang memperagakan silat dengan pakaian tradisional Bali.

Pencak Silat atau Silat (berkelahi dengan menggunakan teknik pertahanan diri) ialah seni bela diri Asia yang berakar dari budaya Melayu. Seni bela diri ini secara luas dikenal di Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Singapura tapi bisa pula ditemukan dalam berbagai variasi di berbagai negara sesuai dengan penyebaran suku Melayu, seperti di Filipina Selatan dan Thailand Selatan. Berkat peranan para pelatih asal Indonesia, saat ini Vietnam juga telah memiliki pesilat-pesilat yang tangguh.

Induk organisasi pencak silat di Indonesia adalah IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia). Persilat (Persekutuan Pencak Silat Antara Bangsa), adalah nama organisasi yang dibentuk oleh Indonesia, Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam untuk mewadahi federasi-federasi pencak silat di berbagai negara.

Sejarah

Silat diperkirakan menyebar di kepulauan nusantara semenjak abad ke-7 masehi, akan tetapi asal mulanya belum dapat dipastikan. Meskipun demikian, silat saat ini telah diakui sebagai budaya suku Melayu dalam pengertian yang luas,[1] yaitu para penduduk daerah pesisir pulau Sumatera dan Semenanjung Malaka, serta berbagai kelompok etnik lainnya yang menggunakan lingua franca bahasa Melayu di berbagai daerah di pulau-pulau Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan lain-lainnya juga mengembangkan sebentuk silat tradisional mereka sendiri. Dalam Bahasa Minangkabau, silat itu sama dengan silek. Sheikh Shamsuddin (2005)[2] berpendapat bahwa terdapat pengaruh ilmu beladiri dari Cina dan India dalam silat. Bahkan sesungguhnya tidak hanya itu. Hal ini dapat dimaklumi karena memang kebudayaan Melayu (termasuk Pencak Silat) adalah kebudayaan yang terbuka yang mana sejak awal kebudayaan Melayu telah beradaptasi dengan berbagai kebudayaan yang dibawa oleh pedagang maupun perantau dari India, Cina, Arab, Turki, dan lainnya. Kebudayaan-kebudayaan itu kemudian berasimilasi dan beradaptasi dengan kebudayaan penduduk asli. Maka kiranya historis pencak silat itu lahir bersamaan dengan munculnya kebudayaan Melayu. Sehingga, setiap daerah umumnya memiliki tokoh persilatan yang dibanggakan. Sebagai contoh, bangsa Melayu terutama di Semenanjung Malaka meyakini legenda bahwa Hang Tuah dari abad ke-14 adalah pendekar silat yang terhebat.[3] Hal seperti itu juga yang terjadi di Jawa, yang membanggakan Gajah Mada.

Perkembangan dan penyebaran silat secara historis mulai tercatat ketika penyebarannya banyak dipengaruhi oleh kaum Ulama, seiiring dengan penyebaran agama Islam pada abad ke-14 di Nusantara. Catatan historis ini dinilai otentik dalam sejarah perkembangan pencak silat yang pengaruhnya masih dapat kita lihat hingga saat ini. Kala itu pencak silat telah diajarkan bersama-sama dengan pelajaran agama di surau-surau. Silat lalu berkembang dari sekedar ilmu beladiri dan seni tari rakyat, menjadi bagian dari pendidikan bela negara untuk menghadapi penjajah. Disamping itu juga pencak silat menjadi bagian dari latihan spiritual.[2]

Istilah dalam Pencak Silat

Sikap dan Gerak

Pencak silat ialah sistem yang terdiri atas sikap (posisi) dan gerak-gerik (pergerakan). Ketika seorang pesilat bergerak ketika bertarung, sikap dan gerakannya berubah mengikuti perubahan posisi lawan secara berkelanjutan. Segera setelah menemukan kelemahan pertahanan lawan, maka pesilat akan mencoba mengalahkan lawan dengan suatu serangan yang cepat.

Teknik

Pencak Silat memiliki macam yang banyak dari teknik bertahan dan menyerang. Praktisi biasa menggunakan tangan, siku, lengan, kaki, lutut dan telapak kaki dalam serangan. Teknik umum termasuk tendangan, pukulan, sandungan, sapuan, mengunci, melempar, menahan, mematahkan tulang sendi, dan lain-lain.

jurus

Pesilat berlatih dengan jurus-jurus. Jurus ialah rangkaian gerakan dasar untuk tubuh bagian atas dan bawah, yang digunakan sebagai panduan untuk menguasai penggunaan tehnik-tehnik lanjutan pencak silat (buah), saat dilakukan untuk berlatih secara tunggal atau berpasangan. Penggunaan langkah, atau gerakan kecil tubuh, mengajarkan penggunaan pengaturan kaki. Saat digabungkan, itulah Dasar Pasan, atau aliran seluruh tubuh.

Aspek dan bentuk

Kesenian Randai dari Sumatra Barat memakai silek (silat) sebagai unsur tariannya.

Terdapat 4 aspek utama dalam pencak silat, yaitu:

  1. Aspek Mental Spiritual: Pencak silat membangun dan mengembangkan kepribadian dan karakter mulia seseorang. Para pendekar dan maha guru pencak silat jaman dahulu seringkali harus melewati tahapan semadi, tapa, atau aspek kebatinan lain untuk mencapai tingkat tertinggi keilmuannya.
  2. Aspek Seni Budaya: Budaya dan permainan “seni” pencak silat ialah salah satu aspek yang sangat penting. Istilah Pencak pada umumnya menggambarkan bentuk seni tarian pencak silat, dengan musik dan busana tradisional.
  3. Aspek Bela Diri: Kepercayaan dan ketekunan diri ialah sangat penting dalam menguasai ilmu bela diri dalam pencak silat. Istilah silat, cenderung menekankan pada aspek kemampuan teknis bela diri pencak silat.
  4. Aspek Olah Raga: Ini berarti bahwa aspek fisik dalam pencak silat ialah penting. Pesilat mencoba menyesuaikan pikiran dengan olah tubuh. Kompetisi ialah bagian aspek ini. Aspek olah raga meliputi pertandingan dan demonstrasi bentuk-bentuk jurus, baik untuk tunggal, ganda atau regu.

Bentuk pencak silat dan padepokannya (tempat berlatihnya) berbeda satu sama lain, sesuai dengan aspek-aspek yang ditekankan. Banyak aliran yang menemukan asalnya dari pengamatan atas perkelahian binatang liar. Silat-silat harimau dan monyet ialah contoh dari aliran-aliran tersebut. Adapula yang berpendapat bahwa aspek bela diri dan olah raga, baik fisik maupun pernapasan, adalah awal dari pengembangan silat. Aspek olah raga dan aspek bela diri inilah yang telah membuat pencak silat menjadi terkenal di Eropa.

Bagaimanapun, banyak yang berpendapat bahwa pokok-pokok dari pencak silat terhilangkan, atau dipermudah, saat pencak silat bergabung pada dunia olah raga. Oleh karena itu, sebagian praktisi silat tetap memfokuskan pada bentuk tradisional atau spiritual dari pencak silat, dan tidak mengikuti keanggotaan dan peraturan yang ditempuh oleh Persilat, sebagai organisasi pengatur pencak silat sedunia.

Tingkat kemahiran

Secara ringkas, murid silat atau pesilat dibagi menjadi beberapa tahap atau tingkat kemahiran, yaitu:

  1. Pemula, diajari semua yang tahap dasar seperti kuda-kuda,teknik tendangan, pukulan, tangkisan, elakan,tangkapan, bantingan, olah tubuh, maupun rangkaian jurus dasar perguruan dan jurus standar IPSI
  2. Menengah, ditahap ini, pesilat lebih difokuskan pada aplikasi semua gerakan dasar, pemahaman, variasi, dan disini akan mulai terlihat minat dan bakat pesilat, dan akan disalurkan kepada masing-masing cabang, misalnya Olahraga & Seni Budaya.
  3. Pelatih, hasil dari kemampuan yang matang berdasarkan pengalaman di tahap pemula, dan menengah akan membuat pesilat melangkah ke tahap selanjutnya, dimana mereka akan diberikan teknik - teknik beladiri perguruan, dimana teknik ini hanya diberikan kepada orang yang memang dipercaya, dan mampu secara teknik maupun moral, karena biasanya teknik beladiri merupakan teknik tempur yang sangat efektif dalam melumpuhkan lawan / sangat mematikan .
  4. Pendekar, merupakan pesilat yang telah diakui oleh para sesepuh perguruan, mereka akan mewarisi ilmu-ilmu rahasia tingkat tinggi.

Pencak Silat di dunia

Pesilat Vietnam memperagakan permainan golok.

Pencak Silat telah berkembang pesat selama abad ke-20 dan telah menjadi olah raga kompetisi di bawah penguasaan dan peraturan Persilat (Persekutuan Pencak Silat Antara Bangsa, atau The International Pencak Silat Federation). Pencak silat sedang dipromosikan oleh Persilat di beberapa negara di seluruh 5 benua, dengan tujuan membuat pencak silat menjadi olahraga Olimpiade. Persilat mempromosikan Pencak Silat sebagai kompetisi olah raga internasional. Hanya anggota yang diakui Persilat yang diizinkan berpartisipasi pada kompetisi internasional.

Kini, beberapa federasi pencak silat nasional Eropa bersama dengan Persilat telah mendirikan Federasi Pencak Silat Eropa. Pada 1986 Kejuaraan Dunia Pencak Silat pertama di luar Asia, mengambil tempat di Wina, Austria.

Pada tahun 2002 Pencak Silat diperkenalkan sebagai bagian program pertunjukan di Asian Games di Busan, Korea Selatan untuk pertama kalinya. Kejuaraan Dunia terakhir ialah pada 2002 mengambil tempat di Penang, Malaysia pada Desember 2002.

Selain dari upaya Persilat yang membuat pencak silat sebagai pertandingan olahraga, masih ada banyak aliran-aliran tua tradisional yang mengembangkan pencak silat dengan nama Silek dan Silat di berbagai belahan dunia. Diperkirakan ada ratusan aliran (gaya) dan ribuan perguruan.

Padepokan Pencak Silat Indonesia

Pintu Gerbang Padepokan Pencak Silat

Padepokan adalah istilah Jawa yang berarti sebuah kompleks perumahan dengan areal cukup luas yang disediakan untuk belajar dan mengajar pengetahuan dan keterampilan tertentu. Padepokan yang disediakan untuk belajar dan mengajar Pen-cak Silat dinamakan Padepokan Pencak Silat.

Padepokan Pencak Silat Indonesia (PnPSI) adalah padepokan berskala nasional dan internasional yang berlokasi di di tas lahan yang luasnya sekitar 5,2 hektar di kompleks Taman Mini Indonesia Indah. Luas total bangunannya sekitar 8.700 m2 dan luas total selasar-selasarnya sekitar 5.000 m2. Padepokan ini secara resmi dibuka oleh Presiden Soeharto pada tanggal 20 April 1997.

Padepokan Pencak Silat Indonesia (PnPSI) mempunyai sekurang-kurangnya 5 fungsi, yakni :

  1. Sebagai pusat informasi, pendidikan, penyajian dan promosi berbagai hal yang menyangkut Pencak Silat.
  2. Sebagai pusat berbagai kegiatan yang berhubu-ngan dengan upaya pelestarian, pengembangan, penyebaran dan pening-katan citra Pencak Silat dan nilai-nilainya.
  3. Sebagai sarana untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan masyarakat Pencak Silat Indonesia.
  4. Sebagai sarana untuk mempererat persahabatan diantara masyarakat Pencak Silat di berbagai negara.
  5. Sebagai sarana untuk memasyarakatkan 2 kode etik manusia Pencak Silat, yakni : Prasetya Pesilat Indonesia dan Ikrar Pesilat.

Organisasi Pencak Silat

  • PERSILAT- Persekutuan Pencak Silat Antara Bangsa
  • IPSI - Ikatan Pencak Silat Indonesia
  • PESAKA Malaysia - Persekutuan Silat Kebangsaan Malaysia
  • PERSISI - Persekutuan Silat Singapore
  • EPSF - European Pencak Silat Federation

Sampai saat ini Anggota Organisasi Pencak Silat yang sudah terdaftar/tercatat di PERSILAT sebanyak 33 organisasi di seluruh dunia.


Asmiranda

Di bawah Post pupuh oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 11:39

Laras: Salendro
Watek: silih asih silih pikanyaah atawa mepelingan.
1 Pada := 7 padalisan.

Pupuh 1: Asmarandana

Eling eling mangka eling ( 8 engang – vokal i / E-ling-e-ling-
mang-ka-e-ling (jumlah 8), ling panungtung vokalna i)
rumingkang di bumi alam( 8 – a )
darma wawayangan bae ( 8 – e )
raga taya pangawasa ( 8 – a )
lamun kasasar lampah ( 7 – a )
nafsu nu matak kaduhung ( 8 – u )
badan anu katempuhan ( 8 – a )

Panambih:

Eling-eling masing eling
Di dunya urang ngumbara
Laku lampah nu utama
Asih ka papada jalma
Ucap tekad reujeung lampah
Tingkah polah sing merenah
Runtut rukun sauyunan
Hirup jucung panggih jeung kamulyaan


Seni Tari Jaipongan

Di bawah Post seni tari oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 10:21

jaipong3

Jaipongan adalah sebuah genre kesenian yang lahir dari kreativitas seorang seniman Bandung, yakni Gugum Gumbira. Perhatiannya pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu membuat seorang Gugum Gumbira mengetahui dan mengenal betul perbendaharaan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kiliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu. Gerak-gerak bukaan, Pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak minced dari beberapa kesenian di atas cukup memiliki inspirasi untuk mengembangkan tari atau kesenian yang kini dikenal dengan nama Jaipongan.

Namun sebelum bentuk seni pertunjukkan itu muncul ada pengaruh yang melatar belakangi bentuk dari pergaulan tersebut. Di Jawa Barat misalnya, tari pergaulan merupakan pengaruh dari Ball Room, yang biasanya dalam pertunjukkan tari-tari pergaulan tak lepas dari keberadaan Ronggeng dan Pamogoran. Ronggeng dalam tari pergaulan tak lagi berfungsi untuk kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau cara gaul. Keberadaan Ronggeng dalam seni pertunjukkan memilki daya tarik yang mengundang simpati kaum pamogoran. Misalnya pada tari Ketuk Tilu yang begitu dikenal oleh masyarakat Sunda, diperkirakan kesenian ini popular sekitar tahun 1916. Sebagai seni pertunjukkan rakyat, kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur yang sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk dar goong. Demikian pula dengar gerak-gerak tarinya yang tidaN memiliki pola gerak yang baku kostum penari yang sederhanz sebagai cerminan kerakyatan.

Seiring dengar rnemudarnya jenis kesenian d atas, mantan pamogorar (penonton yang berperan akti dalam seni pertunjukkan Ketuk Tilu/Doper/Tayub), beralih perhatiannya pada seni pertunjukkan Kiliningan, yang di daerah Pantai Utara Jawa Barat (Karawang, Purwakarta, Bekasi, Indramayu dan Subang) dikenal dengan sebutan Kiliningar, Bajidoran yang pola ibingnya maupun peristiwa pertunjukkannya mempunyai kemiripan dengar kesenian sebelumnya (Ketuk Tilu/Doger/Tayub). Dalam pada itu eksistensi tari-tarian dalam Topeng Banjet cukup digemari, khususnya di Karawang, dimana beberapa pola gerak Bajidoran diambil dari tarian Topeng Banjet ini. Secara koreografi tarian itu masih menampakan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu) dimana terdapat gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid yang pada gilirannya menjadi dasar penciptaan tari Jaipongan_ Beberapa gerak-gerak dasar tari Jaipongan selain Ketuk Tilu, Ibing Bajidor serta Topeng Banjet adalah Tayuban dan Pencak Silat.

(lanjutkan…)


Reog

Di bawah Post pertunjukan oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 10:15

Belum diketahui secara pasti apa yang dimaksud dengan istilah “Reog” dan darimana asalnya serta siapa yang pertamakali membentuk kesenian “reog”. Apakah hanya ada di daerah Priangan saja atau di daerah lainnyapun ada sebagaimana Seni Reog Ponorogo? Jawabannya belum diperoleh informasi yang jelas dan belum ada yang menelusuri sejarah perjalanan seni reog ini.

Namun, masyarakat umum mengenal secara luas seni reog tatkala TVRI menayangkan secara berkala Kesenian Reog yang dimainkan oleh Polri dengan pelakunya antara lain “Mang Diman Cs”(Gup BKAK). Atau sekitar Tahun 1967 muncul perkumpulan Reog Wanita dengan tokohnya Pak Emen dan Ibu Anah dan kemungkinan di daerah lainyapun bermunculan seni reog hanya tidak tercatat secara jelas. (lanjutkan…)


Tari Topeng Cisalak

Di bawah Post seni tari oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 10:11

Asap pedupaan masih mengepul di antara nayaga saat seorang ronggeng (penari) wanita dengan mengenakan toka-toka, apok, kebaya, sinjang dan ampreng dengan warna cerah kuning, hijau dan merah setengah membungkuk pertanda memberi salam muncul dari balik tirai. Selangkah kemudian mulai melakukan gerakan dengan tangan dikembangkan dan kaki setengah maju mundur.

Beberapa gerakan dasar tarian pembuka semisal rapat nindak, tenggang rapat, pakbang dan blongter dilakukannya dengan sangat baik. Terkadang ayunan badannya yang luwes diiringi senyum simpul godaan para nayaga yang tepat berada di balik tirai. Sejurus kemudian sang penari membalikkan badannya membelakangi penonton dengan tidak henti-hentinya menggoyangkan bagian pinggulnya. Diambilnya topeng berwarna putih sebagai tarian topeng pembuka dari tiga tarian yang akan dimainkannya dalam tarian Topeng Tunggal.

Sepuluh pemusik mengiringi dengan rebab, kecrek, kulanter, ketuk, gendang, goong, bende, berikut seorang sinden dan tiga penari yang menunggu giliran tampil. Mereka tergabung dalam Paguyuban Kesenian Tradisional Topeng Cisalak Grup Kinang Putra pimpinan Dalih Jioen, satu dari sekira delapan paguyuban Topeng Cisalak yang masih bertahan di Depok. (lanjutkan…)


Seni Buhun Tutulungan

Di bawah Post pertunjukan oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 10:09

Kesenian tradisional “Tutunggulan” sering disamakan dengan kesenian gondang, padahal pada pelaksanaannya berbeda karena kalau tutunggulan tidak diikuti dengan lagu-lagu atau pantun yang bersaut-sautan sedangkan gondang menggunakan lagu dan sisindiran. Namun alat dan sarana yang digunakannya sama yaitu alu dan lisung.

Kata tutunggulan berasal dari kata “nutu” yang artinya “menumbuk” sesuatu. Sesuatu yang ditumbuk itu biasanya gabah kering hingga menjadi beras, atau dari beras menjadi tepung. Menumbuk gabah menjadi beras tersebut biasanya dikerjakan oleh ibu-ibu antara tiga sampai empat orang dan ayunan alunya mengenai lesung yang menimbulkan suara khas, artinya dapat berirama, dengan tujuan agar tidak membosankan dalam menumbuk padi. Ini dilakukan hingga pekerjaan selesai.

Dari kebiasaan itulah akhirnya muncul seni tutunggulan hanya saja ketika dimainkan tidak menumbuk padi tetapi langsung menumbukkan alunya kepada lesung. Dari ayunan alu itu menghasilkan suara-suara sesuai dengan keinginan yang memainkannya. Konon khabarnya lagu-lagu yang ke luar dari tutunggulan ini adalah seperti; lutung loncat, oray belang, caang bulan dll. Tiap kelompok memiliki jenis lagu tersendiri. (lanjutkan…)


Gembyung

Di bawah Post seni musik oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 09:57

Salah satu peninggalan budaya Islam di Cirebon adalah Seni Gembyung. Seni ini merupakan pengembangan dari kesenian Terbang yang hidup di lingkungan pesantren. Konon kesenian terbang itu salahsatu jenis kesenian yang dipakai sebagai media penyebaran Agama Islam di daerah Cirebon dan sekitarnya. Kesenian Gembyung ini biasa dipertunjukkan pada upacara-upacara kegiatan Agama Islam seperti peringatan Maulid Nabi, Rajaban dan Kegiatan 1 Syuro yang digelar di sekitar tempat ibadah. Entah siapa yang punya ide untuk mengembangkan seni terbang ini dan kapan. Yang jelas kesenian Gembyung muncul di daerah Cirebon setelah kesenian terbang hidup cukup lama di daerah tersebut. (lanjutkan…)


Kuda Renggong

Di bawah Post adat, seni musik oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 09:56

Kuda Renggong atau Kuda Depok ialah salah satu jenis kesenian helaran yang terdapat di Kabupaten Sumedang, Majalengka dan Karawang. Cara penyajiannya yaitu, seekor kuda atau lebih di hias warna-warni, budak sunat dinaikkan ke atas punggung kuda tersebut, Budak sunat tersebut dihias seperti seorang Raja atau Satria, bisa pula meniru pakaian para Dalem Baheula, memakai Bendo, takwa dan pakai kain serta selop.

Di depan rombongan Kuda Renggong ada seorang Pelatuk, yaitu saiah seorang pemain Kuda Renggong, yang bertindak sebagai penunjuk jalan dan pimpinan koordinator firing-iringan tersebut.

Tetabuhannya berupa Kendang besar, Goong,Tarompet, Genjring atau Terbang Gede atau Dulag, bahkan disertakan pula Sinden dan beberapa penari laki-laki dan perempuan. Maka arak-arakan tersebut berjalan menurut arah yang telah ditentukan sebelumnya.

Kuda Renggongnya bergerak­gerak seperti menari, karena sudah terlatih dan terbiasa mendengar tetabuhan. Gerakannya seirama dengan bu:nyi yang dimainkan. Apabila iramanya lambat, Kuda Renggong akan menggerakan tubuhnya dengan lambat pula, begitu pula apabila iramanya cepat Kuda Renggong akan menggerakan tubuhnya dengan cepat pula

Gerakanya selain gerakan kaki Kuda yang berjingkrak-jingkrak, juga kepala Kuda Renggong pun ikut pula terangguk-angguk. Di depan atau di pinggir Kuda Renggong ada beberapa penari, baik dari rombongan Kuda Renggong sendiri maupun dari para penonton atau kerabat yang punya hajatan. Mereka dengan suka citanya ikut berjoget atau menari sebisanya, dan hal inilah yang menambah semaraknya pertunjukkan Kuda Renggong.

Konon pemeiiharaan kuda untuk Kuda Renggong sangat diutarnakan. Selain diberi makan rumput, ongok juga diberi madu, susu, dan telur. Surai nyapun dipelihara dengan baik pula, diuntun dengan memakai pita serta dipasangkan perhiasan yang cerah dengan warna-warni yang indah.***

Source : www.westjava-indonesia.com


Bangreng

Di bawah Post seni tari oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 09:53

Seni Bangreng adalah pengembangan dari seni “Terbang” dan “Ronggeng”. Seni terbang itu sendiri merupakan kesenian yang menggunakan “Terbang”, yaitu semacam rebana tetapi besarnya tiga kali dari alat rebana. Dimainkan oleh lima pemain dan dua orang penabu gendang besar dan kecil.

Pertama kali munculnya seni terbang ini yaitu pada waktu penyebaran Agama Islam yang dilakukan oleh Wangsa Kusumah dimana seni terbang dijadikan media untuk Dawah. Sedangkan “Ronggeng” adalah sebutan bagi sipenari dan sekaligus penyanyi atau disebut pula “Nyi Ronggeng”. Karena sebutannya “Nyi”, maka ronggeng seorang perempuan.

Menurut penuturan para ahli seni (seniman), seni bangreng ini berasal dari Kabupaten Sumedang dan biasa dipertunjukkan pada acara-acara hiburan dan acara khusus seperti ; ruatan rumah, mendirikan bangunan baru dan syukuran-syukuran lainnya.


Rampak Kendang

Di bawah Post pertunjukan oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 09:51

Rampak Kendang adalah salah satu kreasi musik tradional yang dimainkan bersama-sama oleh sekitar dua sampai puluhan pemain. Ditabuh secara bersamaan sesuai musik yang dilantunkan. Tabuhannya memiliki efek suara yang keras sehingga menimbulkan perhatian para penonton.

Dalam Rampak Kendang, instrumennya tidak hanya kendang saja, tapi dapat divariasikan dengan alat-alat lainnya, seperti : alat gamelan, Rebab, gitar, dlsb.

Dalam memainkannya, dapat berdiri sendiri, artinya dari rampak kendang itulah membentuk lantunan lagu sendiri, atau sebagai pengiring dari suatu tari Jaipongan.

Dalam seni pertunjukan, Seni Rampak Kendang telah diterima sebagai salah satu seni kreasi dan telah dipertunjukan pada acara-acara resmi, baik dilingkup Pemerintahan, lingkup swasta maupun masyarakat umum.


Sintren

Di bawah Post pertunjukan oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 09:48

Konon khabarnya Kesenian Sintren memiliki keunikan, keanehan dan keindahan. Hal tersebut terlihat dari penggunaan alat-alat musiknya yang terbuat dari tembikar atau ¿gembyung¿ dan kipas dari bamboo yang ketika ditabuh dengan cara tertentu menimbulkan suara yang khas. Menurut Bpk. Warnali (dh. Penilik Kebudayaan Kec. Indramayu Kota), istilah Sintren berasal dari dua kata, “Sinyo” dan “trennen”.

Sinyo yang berarti pemuda dan trennen artinya latihan, jadi ¿pemuda-pemuda indramayuyang sedang berlatih kesenian. Cara memainkan sintren ini mirip dengan pertunjukan sulap, yaitu seorang penari perempuan yang awalnya menggunakan pakaian sehari-hari setelah di masukan ke dalam kurungan sebesar kurungan ayam dan kemudian dimasukan busana tari ke dalam kurungan tersebut, maka dalam beberapa saat sipenari tersebut pakaiannya (lanjutkan…)


Kecapi Suling

Di bawah Post seni musik oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 09:46

Kacapi Suling merupakan perangkat waditra Sunda yang terdapat hampir di setiap daerah di Tatar Sunda. Waditranya terdiri dari Kacapi dan Suling. Kacapinya terdiri dari Kacapi Indung atau Kacapi Parahu atau Kacapi Gelung.

Selain disajikan secara instrumentalia, Kacapi Suling juga dapat digunakan untuk mengiringi Juru Sekar yang melantunkan lagu secara Anggana Sekar atau Rampak Sekar. Lagu yang di sajikannya di antaranya : Sinom Degung, Kaleon, Talutur dan lain sebagainya.

Laras yang di pergunakannya adalah laras Salendro, Pelog atau Sorog. Berbeda dengan sebutan Kacapi Suling atau Kacapian bila menggunakan Kacapi Siter. Sudah lazim selain Kacapi Siter dan Suling di tambah pula 1 (sate) set Kendang dan 1 (satu) set Goong. Laras yang di pergunakannya sama seperti laras yang biasa di pergunakan pertunjukan Kacapi Suling yang mempergunakan Kacapi Parahu yaitu” laras Salendro, Pelog, Sorog. Kecapi Suling yang mempergunakan Kecapi Siter, selain menyajikan instrumentalia juga di pergunakan untuk mengiringi nyanyian (kawih) baik secara Anggana Sekar maupun secara Rampak Sekar. (lanjutkan…)


Blantek

Di bawah Post seni tari oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 09:42

Seni Pertunjukan Tradisional Jawa Barat dari daerah Bogor

Di daerah Bogor terdapat beberapa kesenian teater rakyat. Salah satu diantaranya seni Blantek. Seni Blantek yang berada di daerah Bogor ini termasuk rumpun seni tipeuh, oleh karena itu disebut juga topeng Blantek.

Istilah Blantek dalam kesenian ini adalah campur aduk, tidak karuan, tidak semestinya atau masih dalam tahap belajar. Selain itu ada juga yang menyebutkan bahwa Blantek itu akronim dari Blan dan Tek. Blan asal kata dari musik rebanan yang dipergunakan untuk mengiri seni Blantek. Sedangkan tek asal kata dari kotek nama salah satu rebana pada alat musik kesenian tersebut. Blantek dalam arti tidak karuan campur aduk dan tidak semestinya didasari oleh anggapan bahwa kesenian ini dalam penyajiannya memasukkan unsur-unsur kesenian lain seperti rebana, ketuk tilu, dan topeng. Demikian pula bentuk kesenian ini tidak jauh berbeda dengan topeng yang berada di Cisalak.

Kedua pengertian Blantek topeng Blantek meliputi beberapa tahapan. Tahap pertama berupa pembacaan dzikir atau puji-pujian yang diiringi rebana biang yang disajikan pada acara-acara ritual agama Islam di daerah Pondok Rajeg Ciseeng, Bojong Gedeh, Ciganjur, Bintaro, Sawangan dan Parung Bogor. Tahap kedua masuknya tari Blanggo atau Pencak Silat Betawi dan Gisauw (Pencak Cina). Dengan masuknya unsur pencak tersebut membuat kesenian Blantek tidak lagi hanya dipertunjukan pada acara ritual agama islam, tapi dipentaskan juga pada acara-acara hajatan.

Tahap ketiga masuk ronggeng topeng dengan tujuan membuat daya tarik pertunjukan. Topeng yang dimasukkannya kedalam kesenian ini merupakan tiruan dari topeng Cisalak yang hanya diambil ronggeng topengnya saja atau kembang topeng. Dengan masuknya unsure tari dan topeng maka lagu-lagunya semakin bertambah banyak. Tahap keempat masuk unsur bodor yang menampilkan lakon-lakon pendek yang tidak utuh.

Dengan masuknya unsur-unsur kesenian lain seperti tersebut diatas kedalam kesenian ini sehingga membentuk kreasi yang seperti itu. Maka karena hal tersebutlah dinamakan kesenian Blantek atau seperti Topeng Blantek.

Kesenian Blantek dewasa ini telah banyak dipengruhi oleh kesenian POP dan Dangdut. Masuknya musik POP dan Dangdut ini tidak hanya berupa lagu-lagu tapi juga alat musiknya. Demikian pula tari Jaipongan. (lanjutkan…)


Tari Digenjring Bonyok

Di bawah Post seni tari oleh admin hari Minggu 3 Mei 2009 pukul 09:27

Kesenian genjring Bonyok memiliki corak kehidupan dan perkembangan yang agak berbeda dengan kesenian lain yang tumbuh dan berkembang di Kecamatan Pagaden kabupaten Subang. Kesenian mampu berkembang lebih cepat, mendapat popularitas lebih cepat dan diterima oleh masyarakat sebagai kesenian tradisional miliknya sendiri yang dapat dinikmati.

Pengertian Genjring Bonyok asal mula dari Genjring dan Bonyok. Genjring adalah waditra berkulit yang memakai semacam anting-anting terbuat dari besi atau perunggu sebagai penghias seperti rebana. Sedangkan Bonyok adalah nama daerah di desa Pangsor Kecamatan Pagaden Kabupaten Subang. Genjring bonyok artinya kesenian Genjring yang awal mulanya berada di daerah Bonyok. Kesenian merupakan salahsatu jenis seni musik tradisional (karawitan) yang alat musiknya terdiri dari Genjring, Bedug, Kecrek, Tarompet dan Goong.

Pertumbuhan dan perkembangan kesenian ini tidak lepas dari keadaan lingkungan masyarakat penduduknya. Maksudnya semakin meningkat kehidupan masyarakat, pengalaman estetis masyarakat dan semakin banyak munculnya pemahaman-pemahaman baru tentang Genjring Bonyok akan berpengaruh besar terhadap eksistensi kesenian tersebut. Jauh sebelum Genjring bonyok lahir, di kampung Bunut Desa Pangsor Kecamatan pagaden telah ada kesenian genjring yang dipimpin oleh Sajen. Kesenian merupakan cikal bakal lahirnya Genjring Bonyok.

Keberadaan Genjring Bonyok erat hubungannya dengan perjalanan hidup Sutarja yang telah bermain dengan Genjring sejak tahun 1963. Waktu itu ia bermain genjring bersama rombongan Genjring yang dipimpin oleh Sajen (pamannya). Dalam rombongan tersebut ia memegang genjring nomor 1 yang merupakan komando bagi alat musik lainnya. Karena Sajen sudah tidak sanggup lagi untuk memimpin rombongan kesenian tersebut, maka sejak tahun 1965 kepemimpinan rombongan kesenian tersebut diserahkan kepada Sutarja.

(lanjutkan…)


Copyright © 2014 . WP Theme created by Web Top.